Postingan

Dua Puluh Ribu Rupiah

Gambar
Mengenang perjalanan tentang arti dua puluh ribu rupiah dalam hidupku. Dulu, saat aku menginjakkan kaki di bangku MTs memiliki uang saku sebesar dua ribu rupiah sudah menjadi sebuah kemewahan untukku. Artinya, jika aku kumpulkan selama enam hari sekolah maka akan ku dapati hasilnya sebanyak dua belas ribu rupiah pada hari sabtu. Namun kejayaan dua ribu perhariku hanya bertahan beberapa saat. Kala itu keluargaku mengalami defisit keuangan. Bagaimana tidak, pekerjaan kuli bangunan yang giat Ayahku lakukan berhenti. Pertama karena tidak ada lagi yang membangun rumah, kedua karena bertepatan dengan musim kemarau. Itulah sebabnya ayahku terpaksa menganggur. Ibuku adalah manajer tercerdas dalam menyiasati kesulitan ekonomi itu. Aku tetap diberi uang saku walaupun krisis. Alhamdulillah.. bekalku menjadi sepuluh ribu rupiah untuk satu minggu, diberikan setiap hari kamis sore. Begitu seterusnya sampai ayahku bekerja kembali. Jangan ditanya, apakah perasaanku, yang terbersit dalam pikir...

Mengetuk Pintu Sarjana

Gambar
Sarjana--Gelar yang diidamkan para pegiat akademis. Gelar yang membuat seseorang dipandang tinggi oleh orang-orang yang belum dapat (bahkan tidak bisa) meraihnya. Seseorang berkata : jangan terlalu bertumpu nasib pada gelar sarjana, sebab sarjana tak mampu menjaminmu memiliki pekerjaan yang prestisius. Lain lagi dengan kutipan dalam buku " Never Quit " karya ka Fatturoyhan yang kurang lebih berbunyi :" pendidikan tinggi memang tidak menjamin seseorang bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi pendidikan tinggi mampu menjamin seseorang agar memiliki kehidupan yang lebih baik."  Ya, inilah catatan juangku untuk mengetuk pintu sarjana. Sekitar bulan Mei 2018, aku menerima surat kelulusan sekolah SMAku. Berdebar rasanya, perjalanan kami selama 3 tahun menempuh bangku SMA akan ditentukan hari itu. 'Lulus' kata itulah yang tercantum dalam surat kelulusanku. Alhamdulillah, bersyukur sekali rasanya bisa mengenyam pendidikan di SMA selama 3 tahun itu. Angkata...

Sepenggal Cerita dari Alun-Alun Cianjur

Gambar
Awan mendung begitu pekat tatkala kami menginjakan kaki di tempat itu. Dari gerbang depan jumlah orang yang menuju ke sana memang terlihat membludak, wajar saja terjadi demikian, ini adalah malam minggu. Di mana orang-orang menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama orang-orang tercinta. Tak lupa aku dan teman sekampus mengambil foto di beberapa lokasi di alun-alun. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17. 34 saat kami mulai memasuki kawasan alun-alun. Awan mendung itu tidaklah menyurutkan minat pengunjung untuk menikmati pertunjukkan yang sedang berlangsung. Ada band musik di sana, dengan 2 orang penyanyi wanita berhijab. Ketika pertunjukkan itu berlangsung, Shelly, teman sekelasku, mengajak rombongan kampus untuk menyebrangi area yang sedang menjadi pusat perhatian penonton, agar kami bisa mencapai tangga di sebrangnya. Namun, ketika kami berhasil menyebrang ternyata grup band musik itu berhenti. Dan mulai terdengar suara MC mengumumkan bahwa nanti akan tampil lagi pengisi ac...

Kemana Kita Tuju, Ke Sana Kita Pergi

Gambar
Istana Changdeok yang terkenal di Korea, Lokasi yang sering dijadikan tempat shooting drama Korea. Pernahkah terpikirkan oleh diri kita, untuk apa kita pergi ke suatu tempat jika kita memang tidak memiliki tujuan apapun berada di tempat itu? Pasti pernah. Ini hanya sekedar sharing pengalaman, lebih tepatnya gejolak batin diri saya sendiri. Sebenarnya, dalam hati saya keukeuh ingin pergi ke Korea, namun entah untuk apa. Belajarkah, wisata, atau bekerja mungkin? Entahlah saya sendiri pun tidak tahu asal muasalnya. Jujur saja, saya hanya ingin pergi ke Korea karena ketertarikan saya akan pakaian tradisional negara tersebut, Ya Hanbok. Hanbok ini menjadi pendorong diri saya untuk pergi ke Korea. Namun, banyak orang-orang terdekat saya yang mengatakan :"Untuk apa jauh-jauh ke Korea kalau cuma buat pakai hanbok? Di Sini (di Indonesia, di Cianjur) juga banyak ko tempat-tempat wisata yang menyewakan Hanbok. Mulai dari 35.000 sampai 35 + 0 yang banyak juga ada ko." Iya sih,...

Cita-Cita Sehelai Kain

Gambar
Bismillah... cerita ini adalah cerita tentang keinginanku untuk berhijab. Ketika usiaku 6 tahun, kupikir orang-orang yang hanya boleh berhijab adalah golongan santri dan orang-orang yang pandai mengaji saja. Jujur, ketika itu timbullah keinginanku untuk masuk pesantren karena aku ingin berhijab. Walaupun aku sendiri tak tahu persisnya apa itu pesantren. Seiring waktu berjalan, aku masih belum bisa menyentuh jilbab itu. Ibuku tak pernah menjabarkan banyak hal tentang jilbab kepadaku. Semakin yakinlah aku bahwa jilbab tidak diperuntukkan bagi orang-orang biasa. Tapi, aku masih bersyukur karena setiap mengaji di sore hari aku masih bisa memakai jilbab. Aku lupa kapan tepatnya, waktu itu mungkin usiaku sekitar 8 tahun, saat aku duduk di kelas 2 SD. Aku menonton tayangan infotainment di sebuah channel televisi. Di sana sedang ada berita tentang Ka Rachel Maryam yang memilih untuk berhijab. Aku menyaksikannya dengan seksama. Dalam tayangan itu mba Rachel mengatakan :"Jilbab ini seba...

Ketika Nana menjelma jadi Nanny (part.1)

Setiap manusia memiliki harapan, cita-cita dan tujuan dalam kehidupannya. Begitupun yang terjadi pada diriku. Awalnya cita-citaku untuk menjadi karyawan swasta amat menggebu-gebu. Entah apa penyebabnya, tergiur upah minimum regional, atau kepastian untuk bertemu oppa-oppa korea (hehehhe😂). Yang jelas usahaku untuk mencoba memasuki kawasan perusahaan swasta tak pernah berhasil. Entah karena Dewi Fortuna yang masih tidur nyenyak dan belum menggeliat atau apalah itu namanya. Sudah beberapa kali aku mencoba melayangkan lamaran ke pabrik-pabrik, namun yang terjadi adalah : aku dipulangkan oleh satpam saat baru memasuki gerbang pabrik. Hahahah makasih pak satpam. Saya tahu kok jalan pulangnya. Tapi, percayalah... kata-kata yang berserakan menjamur distatus facebook setiap orang yang berbunyi :" Tuhan memberikan apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan." Telah terjadi padaku. Setelah lamaran pabrik yang selalu ditolak dan membuatku frustasi dan memutuskan untuk men...
Well, this is my relax time. Ga rileks gimana coba ya, aku udah mulai adaptasi dengan pekerjaan baru selama 2 minggu, eeeh malah di off sepihak sama yang punya perusahaan (hehehe, haruskah aku jadi ownernya??😂). Tapi gapapa ya genks, menjadi seorang jobless atau dalam bahasa gaulnya itu NEET ada hikmahnya ko. Ga percaya?? Nih ya biar ku uraikan satu-satu. First, jadi seorang jobless itu bakalan buat kamu lebih menghargai pekerjaan yang kamu punya. Soalnya kamu udah pernah ngerasain gimana susahnya persaingan untuk mendapatkan posisi yang pas dengan kemampuanmu di dunia kerja. Eventhough, ada waktu-waktu dimana kita ga suka sama apa yang kita kerjakan, karena ga sesuai dengan keinginan kita. But, inget ya guys, Tuhan aja memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. So, ga usah ngeluh dengan pekerjaan yang kamu dapatkan. Seiring berjalannya waktu, kita pasti bisa menikmati kesusahan yang awalnya jadi pengahalang buat kita ko. (Lhaaa, ngapain aku ngelantur terus na...